Skip to main content

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 6)


Beberapa dari kami mulai gelisah atas kegabutan ini. Alfi, Ana, dan Jafar berinisiatif untuk survei mata air dan fasilitas umum di Desa Pajam. Mereka menemukan dua mata air yaitu mata air Tefufu di lembah Pajam, dan mata air di sekitar kantor Polsek. Mata air tersebut menjadi darah segar yang mengalirkan kehidupan bagi warga Pajam.
Mata air Tefufu terletak kurang lebih 1,5 km dari pondokan kami yang dapat ditempuh melewati Dusun Palea maupun Dusun Jamaraka. Disana terdapat tiga sumur yang dibagi peruntukannya sebagai berikut: 1 sumur untuk air minum, 1 sumur untuk mandi dan mencuci bagi kaum perempuan, dan 1 sumur untuk mandi dan mencuci bagi kaum laki-laki dengan lokasi yang lebih jauh. Air permukaannya cukup dangkal. Bening pula. Pada sumur untuk air minum, warga biasanya mengambil air tersebut untuk dikonsumsi langsung.
Sekalian survei, mereka mengamati rumah tenun modern hibah dari pemerintah daerah di depan pondokan kami. Di rumah tenun tersebut hanya terdapat satu mesin tenun yang jarang digunakan. Menurut informasi, alat tersebut digunakan pada saat ada turis saja. Masyarakat jarang menggunakan alat tersebut karena tidak dilengkapi dengan alat “Oluri”nya dan karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki kelompok tenun.
Beruntungnya, kami langsung pulang selepas survei. Karena tiba-tiba hujan badai dating pagi-pagi. Akhirnya kami seharian di rumah mengerjakan urusan rumah tangga dan tim.
Siang hari setelah hujan reda, Bang Jum mengajak kami untuk mencari kelapa muda di kebun. Berangkatlah kami bersama dengan anak-anak kecil yang rajin datang ke pondokan kami. Ternyata jalan cukup jauh, kurang lebih 1 km dan menuruni lembah. Tapi hasilnya sebanding dengan jumlah dan kenikmatan kelapa yang kami peroleh. Buanyak pol! Anak-anak kecil itu membawa masing-masing empat buah denga dipikul. Lucu tapi kasihan juga mereka keberatan dan berkali-kali berhenti pada saat jalan menanjak.
Pulangnya sudah disiapkan gula merah, es batu, dan malkist. Kami siapkan es kelapa muda campur malkist 3 baskom besar. Beuh! Surga! Bergelas-gelas kami minum itu kelapa muda. Fyi, kelapa muda disini rasanya manis bukan seperti di Jawa. Dan kami baru tahu, malkist enak juga untuk dimakan barengan kelapa muda.
Sore-sore kami mengajak Pak Kumis, kepala Dusun Jamaraka untuk mengenalkan kami kepada warga. Diajaklah kami berkeliling Jamaraka dan sebagian Sampalu, menyapa warga dan anak-anak kecil. Dusun Jamaraka merupakan dusun terluas di Pajam, dengan dinamika sosial yang lebih hidup dan bervariatif.
Tentu saja menjadi tantangan baru bagi kami!

Comments

Popular posts from this blog

Keterima GT/MT Sinarmas Forestry

Keterima Seleksi Sinarmas Forestry  How’s your post-college life? Seems suck, isn’t it? Be calm, thing takes time.  Penting banget buat menentukan (prioritas) tujuan akan kemana kita setelah lulus, bahkan sebaiknya dipikirkan sebelum lulus itu sendiri. Tujuan jangka pendek, menengah, pun panjang. Disusun detil lebih baik, tapi kalau berat ya yang kasar dulu aja. Paling tidak sedikit mengurai keruwetan atas pikiran kita sendiri.  Buatt aku, bergabung dengan Sinarmas Forestry menjadi baby step untuk tujuan jangka menengah. Jadilah aku daftar. So, tentukan tujuan dulu ya sebelum mendaftar! 1. Daftar di Platform Jobseeker  Waktu itu aku daftar sebagai Graduate Trainee/GT (semacam MT) melalui jobstreet.  Sebelum apply:  a. Cek kelengkapan profil, posisi terakhir/pengalaman usahakan relate dengan sinarmas forestry. Bisa Bahasa Indonesia atau Inggris, yang penting konsisten dan bisa dipertanggungjawabkan.  b. Baca requirement dan job description, kalo ga coco...

Lupa Nambahin Air Pas Masak Nasi

Lupa Nambahin Air Pas Masak Nasi Disclaimer: personal and random thoughts dan ga penting ehehe Hah? Kok bisa? Aneh banget. Orang mah lupa nyetekin cooking di rice cooker. Kebangetannnn!!! Begitulah komentar teman-temanku saat mengetahui tindakanku. Dipikir-pikir, bisa-bisanya lupa nambahin air? Trus mau masak apa? Nasi tu ya beras plus air! Mau manasin beras? Jemur aja! Ini masak buat burung apa gimana? Terbayang kekesalan teman(-teman)ku pada laper banget, terus mempercayakan soal nasi padaku, trus ternyata ga jadi nasi. Wkwkwk beribu maaf 🙇🏻 Hingga pada suatu sepertiga malam, aku mau sahur. Agenda sahur itu terdiri dari baca doa bangun tidur, masak nasi, sholat, masak lauk, makan minum, sikat gigi, dan sholat. First thing first, menanaklah nasi. Blablabla prosesi memasak nasi dimulai, dan berakhir pada bunyi klik di rice cooker. Ahh selesai, bisa ditinggal kegiatan lain. Kupercayakan nasiku pada rice cooker.  Aku sholat dengan tenang. Selesai sholat, kubayangkan mau masak lauk....

Mongkog Atine Nalika Riyaya

Sebagai orang kampung yang bekerja di Ibukota, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ketika masyarakat akhirnya diizinkan untuk mudik dengan cuti yang cukup panjang. Dua tahun kemarin menjadi tahun tersedih karena tidak bertemu dengan keluarga di kampung halaman, dan lebaran tahun ini sepertinya menjadi ajang balas dendam setelah dua tahun absen. Orang-orang keranjingan pulang kampung demi melakukan banyak hal di kampung. Saking semangatnya mudik, saya sudah menanyakan tiket kepada teman saya yang bekerja di agen perjalanan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, bolak-balik membeli beberapa barang di Pasar Tanah Abang, dan tentu saja mengumumkan kepulangan saya kepada Ibu, Bapak, Mas, Mba, adik-adik, keponakan-keponakan, dan Simbah saya. Maaf, saya norak banget, karena sesenang itu bisa mudik, huhuhu. Sebagai bekal, sebagaimana lebaran pada umumnya, lini masa sosial media saya dipenuhi beragam daftar hal-hal yang perlu disiapkan sebelum berlebaran di kampung. Tidak lupa perta...