Skip to main content

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 7)


Hari berikutnya, bekerja bakti mengisi air di bak mandi, memperbaiki talang air, dan membangun rumah tetangga. Di rumah kami terdapat dua bak mandi yaitu di atas dan di kolong. Bak mandi di atas berupa sumur tadah hujan. Tadinya hanya ada talang kecil yang mengalirkan satu air hujan dari satu larik genteng saja. Oleh karena itu, kami memasang talang dengan jangkauan genteng yang lebih lebar agar lebih banyak air tertampung. Sementara itu, ada satu bak mandi di bawah yang tidak lagi dipakai. Kami bejibaku membersihkannya dan berniat mengisi air yang akan kami beli. Dari sini pula, kami merencanakan untuk membeli air dari warga desa di Lembah Kaledupa. Mereka mematok harga 50.000 untuk 1.200 liter air bersih. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kami bahwa air sangat berharga disini, dan lebih bijak dalam menggunakan air.
Sore hari, kami memutuskan untuk singgah ke rumah ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pak Mulyadi yang ada di Desa Jamaraka. Kami berbincang dengan Pak Mul cukup banyak terutama mengenai permasalahan sosial di Desa Pajam yang cukup mencolok. Yang kami salutkan dari Pak Mul adalah pemikirannya yang sangat maju untuk menggerakkan Pajam dan bagaimana beliau berjuang merealisasikannya. Sementara itu, kami beruntung bertemu dengan Mama Harlina, istri Pak Mul yang kebetulan ketua kelompok tenun di Dusun Jamaraka, nama kelompoknya Panglia. Beliau menunjukkan karya-karya tenun dari kelompoknya yang membuat kami tertarik untuk datang dan mengulik lebih jauh suatu saat.
Ini kali kedua kami (tim perempuan) datang ke rumah Pak Mul, tapi kali ini kami ingin belajar tenun bersama kelompok tenun yang dipimpin oleh Mama Harlina. Kami diberi tahu beberapa ketentuan dalam menenun mulai dari motif, benang yang digunakan, tata waktu, pemakai, harga, dinamika kelompok, manajemen keuangan kelompok, dan lain-lain. Kami akan ceritakan detailnya nanti lagi.
 Sementara itu, tim laki-laki terbagi menjadi dua. Firhan dan Jafar main tenis bersama anak-anak dan karang taruna, Bajidi dan Beng menghadiri rapat unit di Horuo. Lalu, kami pulang sama-sama.
Masih kondisi gerah, kami membeli pop ice yang dijual tidak jauh dari pondokan. Padahal mati lampu. Kok bisa pakai blender? Setelah kami telusuri, Ibu itu menggunakan aki untuk menyalakan blendernya. Tapi masih menjualnya dengan harga normal seperti di Jawa. Wow!

Comments

Popular posts from this blog

Keterima GT/MT Sinarmas Forestry

Keterima Seleksi Sinarmas Forestry  How’s your post-college life? Seems suck, isn’t it? Be calm, thing takes time.  Penting banget buat menentukan (prioritas) tujuan akan kemana kita setelah lulus, bahkan sebaiknya dipikirkan sebelum lulus itu sendiri. Tujuan jangka pendek, menengah, pun panjang. Disusun detil lebih baik, tapi kalau berat ya yang kasar dulu aja. Paling tidak sedikit mengurai keruwetan atas pikiran kita sendiri.  Buatt aku, bergabung dengan Sinarmas Forestry menjadi baby step untuk tujuan jangka menengah. Jadilah aku daftar. So, tentukan tujuan dulu ya sebelum mendaftar! 1. Daftar di Platform Jobseeker  Waktu itu aku daftar sebagai Graduate Trainee/GT (semacam MT) melalui jobstreet.  Sebelum apply:  a. Cek kelengkapan profil, posisi terakhir/pengalaman usahakan relate dengan sinarmas forestry. Bisa Bahasa Indonesia atau Inggris, yang penting konsisten dan bisa dipertanggungjawabkan.  b. Baca requirement dan job description, kalo ga coco...

Lupa Nambahin Air Pas Masak Nasi

Lupa Nambahin Air Pas Masak Nasi Disclaimer: personal and random thoughts dan ga penting ehehe Hah? Kok bisa? Aneh banget. Orang mah lupa nyetekin cooking di rice cooker. Kebangetannnn!!! Begitulah komentar teman-temanku saat mengetahui tindakanku. Dipikir-pikir, bisa-bisanya lupa nambahin air? Trus mau masak apa? Nasi tu ya beras plus air! Mau manasin beras? Jemur aja! Ini masak buat burung apa gimana? Terbayang kekesalan teman(-teman)ku pada laper banget, terus mempercayakan soal nasi padaku, trus ternyata ga jadi nasi. Wkwkwk beribu maaf 🙇🏻 Hingga pada suatu sepertiga malam, aku mau sahur. Agenda sahur itu terdiri dari baca doa bangun tidur, masak nasi, sholat, masak lauk, makan minum, sikat gigi, dan sholat. First thing first, menanaklah nasi. Blablabla prosesi memasak nasi dimulai, dan berakhir pada bunyi klik di rice cooker. Ahh selesai, bisa ditinggal kegiatan lain. Kupercayakan nasiku pada rice cooker.  Aku sholat dengan tenang. Selesai sholat, kubayangkan mau masak lauk....

Mongkog Atine Nalika Riyaya

Sebagai orang kampung yang bekerja di Ibukota, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ketika masyarakat akhirnya diizinkan untuk mudik dengan cuti yang cukup panjang. Dua tahun kemarin menjadi tahun tersedih karena tidak bertemu dengan keluarga di kampung halaman, dan lebaran tahun ini sepertinya menjadi ajang balas dendam setelah dua tahun absen. Orang-orang keranjingan pulang kampung demi melakukan banyak hal di kampung. Saking semangatnya mudik, saya sudah menanyakan tiket kepada teman saya yang bekerja di agen perjalanan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, bolak-balik membeli beberapa barang di Pasar Tanah Abang, dan tentu saja mengumumkan kepulangan saya kepada Ibu, Bapak, Mas, Mba, adik-adik, keponakan-keponakan, dan Simbah saya. Maaf, saya norak banget, karena sesenang itu bisa mudik, huhuhu. Sebagai bekal, sebagaimana lebaran pada umumnya, lini masa sosial media saya dipenuhi beragam daftar hal-hal yang perlu disiapkan sebelum berlebaran di kampung. Tidak lupa perta...