Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Wakatobi

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 7)

Hari berikutnya, bekerja bakti mengisi air di bak mandi, memperbaiki talang air, dan membangun rumah tetangga. Di rumah kami terdapat dua bak mandi yaitu di atas dan di kolong. Bak mandi di atas berupa sumur tadah hujan. Tadinya hanya ada talang kecil yang mengalirkan satu air hujan dari satu larik genteng saja. Oleh karena itu, kami memasang talang dengan jangkauan genteng yang lebih lebar agar lebih banyak air tertampung. Sementara itu, ada satu bak mandi di bawah yang tidak lagi dipakai. Kami bejibaku membersihkannya dan berniat mengisi air yang akan kami beli. Dari sini pula, kami merencanakan untuk membeli air dari warga desa di Lembah Kaledupa. Mereka mematok harga 50.000 untuk 1.200 liter air bersih. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kami bahwa air sangat berharga disini, dan lebih bijak dalam menggunakan air. Sore hari, kami memutuskan untuk singgah ke rumah ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pak Mulyadi yang ada di Desa Jamaraka. Kami berbincang dengan Pak Mul c...

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 6)

Beberapa dari kami mulai gelisah atas kegabutan ini. Alfi, Ana, dan Jafar berinisiatif untuk survei mata air dan fasilitas umum di Desa Pajam. Mereka menemukan dua mata air yaitu mata air Tefufu di lembah Pajam, dan mata air di sekitar kantor Polsek. Mata air tersebut menjadi darah segar yang mengalirkan kehidupan bagi warga Pajam. Mata air Tefufu terletak kurang lebih 1,5 km dari pondokan kami yang dapat ditempuh melewati Dusun Palea maupun Dusun Jamaraka. Disana terdapat tiga sumur yang dibagi peruntukannya sebagai berikut: 1 sumur untuk air minum, 1 sumur untuk mandi dan mencuci bagi kaum perempuan, dan 1 sumur untuk mandi dan mencuci bagi kaum laki-laki dengan lokasi yang lebih jauh. Air permukaannya cukup dangkal. Bening pula. Pada sumur untuk air minum, warga biasanya mengambil air tersebut untuk dikonsumsi langsung. Sekalian survei, mereka mengamati rumah tenun modern hibah dari pemerintah daerah di depan pondokan kami. Di rumah tenun tersebut hanya terdapat satu mesin ten...

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 4)

Pagi di Pajam. Mungkin karena kelelahan, waktu Subuh kami bangun untuk sholat, habis itu tidur lagi hehe. Namun, Haha dan Alfi memutuskan untuk jalan-jalan pagi mengitari Dusun Palea. Mereka menjumpai warga yang beraktivitas pagi hari, mulai dari hanya duduk santai, membuka toko, membuat api, membuat kasuami, dan lain-lain. Juga mengamati keberadaan warung, counter pulsa, bangunan SD dan SMP, Benteng Kamali, sekretariat tenun ikat Djalima, rumah tenun modern, dan masjid. Kebanyakan warung disini merupakan toko kelontong yang menjual bahan kering, tentu saja tidak selengkap toko kelontong di Jawa. Counter pulsa disini pun hanya menjual pulsa saja, tidak menjual kartu perdana. Bangunan SD dan SMP sudah permanen dengan sarana prasarana dan tingkat keamanan yang kurang memadai. Benteng Kamali merupakan “keraton” yang sakral dan tidak boleh dimasuki oleh masyarakat umum sembarangan. Rumah tenun berupa dua macam yaitu modern dan tradisional. Sepanjang jalan berjumpa dengan pohon nangka y...

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 3)

Merry Christmas, Yunefa! Teman kami, Yunefa, hari ini merayakan Natal. * Masih di Wanci, hujan turun pagi-pagi di jam yang sudah kami sepakati. Semua barang, dan peserta sudah bersiap untuk meninggalkan kantor WWF menuju ke lokasi KKN. Bus Pemda setia mengantarkan kami menuju Pelabuhan Mola untuk melepas kepergian kami. Yaa, candaan khas anak-anak mewarnai perjalanan kami di dalam bis. Pelabuhan Mola ini berupa dermaga kecil yang luasnya tidak lebih dari lapangan sepak bola. Ada beberapa penjual minuman segar, ikan, dan barang-barang untuk bepergian. Tanpa diduga, ternyata kantong kresek tempat telur kelompok kami berlubang besar. Jadilah telur kami jatuh di jalan, bahkan ada satu yang jatuh di dalam bis. Akhirnya kami bereskan seadanya dengan tisu dan plastik seadanya. Niat kami, sampah ini akan kami buang ke tempat sampah di pelabuhan. Ternyata kami tidak menemukan tempat sampah. Akhirnya kami titipkan kepada salah satu ibu penjual minuman di dermaga dengan harapan akan dib...

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 2)

Wakatobi, 24 Desember 2018. Yeay! Malam pertama di Wakatobi. Tepatnya di Pulau Wangi-wangi. Paginya aku excited jalan-jalan mengenali udara sekitar dan mencari sarapan. Kami ke pasar, sontak menjadi pusat perhatian semua orang di pasar. Orang Jawa ya, mereka bertanya. Tertarik dengan pisang goreng, lalu kami beli. Uniknya, pisang goreng disini besar-besar ukuran setengah buah aslinya, harganya only 1K, dan dikasih sambel dong. Kami juga menjumpai snack-snack jajanan pasar macam di Jawa. Pencarian sarapan kami lanjutkan hingga akhirnya ketemu nasi kuning. Penjualnya orang Solo yang sudah lama menetap di Palu, terdampak tsunami, dan baru pindah di Wakatobi satu bulan yang lalu. Pricelist warung nasi kuning: Nasi kuning ikan: 7K Nasi kuning telur: 7K Nasi kuning ikan+telur: 10K Nasi kuning ayam: 10K Perjalanan kami lanjutkan ke area belakang kantor WWF yang sengaja di bangun semacam dermaga dari batuan karang. Ini kali pertama kami mengamati kehidupan orang Wakatobi. Bapak...

KKN-PPM UGM Wakatobi (Hari 1)

Yogyakarta 16.00 Semua orang hiruk pikuk di area Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Lari, latihan menari, dan OMG! Ada resepsi. Di sisi sebelah barat, ada dua gerombolan mahasiswa yang membawa koper-koper dan tas-tas besar. Masing-masing menimbang kopernya. Raut pasrah Nampak pada mahasiswa yang berat kopernya melebihi kesepakatan kelompok. Yah, bayar. Dua gerombolan itu akan menuju ke Wakatobi dan Alas Barat untuk KKN. Namun, cerita ini tentang KKN Wakatobi saja. Di penghujung senja kami berangkat. Sholat dulu, salah satu dari tim kami bilang. Maskam (masjid kampus) menjadi tempat yang selalu menawarkan keteduhan. Setidaknya untuk mengawali niat kami ber-KKN. Lanjutlah kami berjalan hingga ke Bandara Djuanda Surabaya dengan bus.   Tengah malam kami mampir ke rumah makan. Sengaja aku pilih rendang untuk membangkitkan nafsu makan. Ya Allah, aku memakan nasi rendang di Magetan seharga 40.000. Tiba disana Subuh. Kemudian sholat. Deg! Tibalah saat mendebarkan bahwa ternyata bebera...